Dikotomi Pendidikan: Korupsi Boleh Asal Bukan Urusan Agama

Posted by







_____________________________________________________________________________

"Kalau korupsi di masjid, baru dosa," begitu kiranya kalau saya ilustrasikan anggapan mereka para korban dikotomi pendidikan. 

Gus Mus, Al Ghozali, Dikotomi Pendidikan dan koruptor

Beberapa bulan lalu dalam perjalanan ke Kediri dari Jember saya bertemu dengan dua orang bapak-bapak dan ibu-ibu, yang laki mungkin lebih tepat sudah kakek-kakek. Busana mereka muslim tulen kearab-araban: urban dan kerudung panjang. Unik, aneh, tetapi itu fakta. mereka duduk di samping saya.

Mereka berdoa pada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Tahu yang benar dan yang salah. "Semoga Allah melindungi, Tuhan Maha Adil dan Maha Penolong. Tenang saja, Pak," kata yang perempuan sambil membaca beberapa kalimat doa. Ibu-ibu di depan saya sesekali memperhatikan kedua pasangan tersebut. Yang perempuan kelihatan gugup sekali dan tidak tenang, sesekali menoleh ke belakang.

Ternyata mereka adalah penumpang tanpa tiket. Dua orang pemuda bingung mengetahui tempat duduknya diduduki mereka. Waktu itu kereta sudah sampai di salah satu stasiun berikutnya.

Tidak ada manusia yang tak luput dari salah dan khilaf. Kembali pada judul artikel ini. Sebagai anak desa, saya anyak sekali menyaksikan manusia-manusia yang demikian. Mereka menganggap boleh-boleh saja tidak mematuhi aturan yang tidak dibuat dalam Al Quran atau hadits, yang tidak ditulis dengan bahasa Arab. Penumpang ilegal dalam kereta yang saya ceritakn--semoga Allah mengampuni dan memberi petunjuk--merupakan salah satu contoh orang yang berpemikiran demikian. Mereka mengira tak perlu patuh aturan perkeretaapian.

Saya menduga, jangan-jangan korupsi juga begitu. Mereka merasa sah-sah saja karena aturannya tidak ditulis dalam kitab suci dan tidak berbahasa Arab. Saya mengutip pidato penyair yang saya kagumi, sekaligus seorang kyai, yakni Gus Mus atau KH. Mustofa Bisri, Rembang saat berpidato di Lirboyo, kediri. Saya menonton video beliau yang menyinggung tentang korban dikotomi pendidikan yang menyebabkan sebagian orang islam bisa menganggap halal melanggar aturan negara. Berikut videonya:


Beliau menyinggung sejarah bahwa Belanda membuat strategi untuk melemahkan Indonesia denan mendikotomikan pendidikan. Mereka membagi pendidikan menjadi dua jenis, yakni ilmu agama dan ilmu umum. Sehingga muncullah istilah-istilah yang lucu di Indonesia, kata beliau: ada madratsah, ada sekolah; ada toko buku, ada toko kitab, ada pak guru, ada pak ustadz. Padahal, bukuu dengan kitab itu sama, barangnya satu. Guru dengan ustadz juga sama. Yang membedakan hanya bahasanya, kitab merupakan bahasa Arab, buku merupakan bahasa Indonesia.

Akibat dari pendikotomian ini, yang belajar ilmu agama seolah-olah tidak tau dunia. Bahkan menganggap dunia tidak penting. Padahal mereka hidup di dunia. Mereka juga menganggap aturan-aturan di dunia ini tidak penting. Sementara yang belajar ilmu umum, seolah-olah tidak tahu akhirat. Bagi mereka akhirat dianggap tak penting. Sehingga lahirlah orang-orang pintar yang tak bermoral dan orang-orang bermoral yang tak banyak memberi manfaat karena tak punya keterampilan.

"Kalau hanya begitu, pake komputer saja," kata beliau. "Komputer itu lebih penurut, bisa menghafal banyak hal, hafal quran, dsb." Menurut beliau, percuma punya generasi pintar tapi tidak memberi manfaat dengan ilmunya. Benar memang. Jika butuh orang yang ahli menghafal pelajaran, komputer lebih mampu dan cepat.

"Orang pintar yang tidak bermoral, lebih berbahaya dari pada orang bodoh. Sementara orang alim yang tidak bermanfaat, sama dengan orang bodoh," kata beliau.

Menurut Gus Mus, pendidikan kita lebih menekankan pada pengajaran saja, dalam bahasa arab dikenal dengan istilah taklim. Pengajaran hanya memberikan informasi. Otak generasi hanya berfungsi menyimpan informasi. Tidak jauh beda dengan fungsi komputer, tapi komputer lebih cerdas, cukup sekali klik sudah ingat semua, kecuali kena virus.

Pendidikan dalam bahasa Arab dikenal dengan tarbiyah. Tarbiyah bertujuan merubah perilaku. Yang asaalnya tidak baik, menjadi baik. Yang asalnya tak bermoral menjadi bermoral. Beliau mengisahkan pengalamannya ketika ke Eropa, waktu diundang ke Hamburg University. Awalnya beliau bimbang karena waktu itu pas ulan puasa dan harus diundang ke negara orang kafir. Ternyata, beliau menyaksikan ajaran islam nampak pada kehidupan di sana. Beliau tidak menyaksikan tulisan "An Nadhafatuh Minal iman" seperti di Indonesia. Kalau di Indonesia, bukan hanya Arab-nya, tapi disertai terjemahannya "Kebersihan adalah sebagian dari iman", tapi tetap saja kotor. Sangat berbeda dengan di Eropa, kata beliau.

"Ini saya bingung, apa orang yang menerapkan ajaran islam tapi tidak sholat yang masuk surga, atau orang yang sholat tapi tidak menerapkan ajaran agama?" kata beliau. Menurut saya kalimat tersebut hanya guyonan yang tak perlu diperselisihkan. Maksud beliau adalah menyindir kehidupan para korban dikotomi pendidikan.

Belanda telah memisah-misah. Ajaran moral adanya di madratsah, tulisannya menggunakan bahasa Arab, sumbernya kitab. Ilmu pertanian adanya di sekolah, menggunakan bahasa Indonesia, sumbernya buku. Begitu pendikotomian pendidikan kita. Tetapi kita sudah dibuat buta. Seolah-olah madratsah itu bukan sekolah, dan sekolah bukan madratsah. Semoga kita semua mendapat taufiq dan hidayah-Nya.

Ketika di Eropa, waktu mau nyembrang jalan, beliau kaget dan heran melihat orang berdiri di pinggir jalan. Beliau bertanya-tanya kenapa orang-orang tersebut berdiri di pinggir jalan bersama anjingnya juga, padahal cuaca sedang dingin. Beliau ingin nyebrang, tapi malu. Ternyata ada tanda lampu merah bergambar orang di depan. Beliau pun ikut menunggu. "Masak saya kalah sama anjingnya orang kafir," pikir beliau. Di Indonesia, sudah lampu merah menyala, sedang rame, masih saja maksa nyebrang. BAHKAN yang melakukan aksi demikian adalah tokoh agama atau keluarganya. Mungkin karena lampu merah tidak tertulis dalam kitab suci.

Dunia modern telah menciptakan spesialisasi. Waktu saya di rumah sakit DR. Soetomo Surabaya. Saya di kelas 3, rame sekali ruangannya. Di sebelah say ada anak SMP kecelakaan. Lukanya di kaki, luka bakar kena kenalpot, rahang, dan luka biasa. Yang menangani ada tiga dokter: Dokter bedah plastik khusus luka bakarnya; dokter bedah rahang, untuk patah tulang rahangnya, dan dokter yang menangani luka biasan.

"Jangan-jangan ada spesialisi wudhu nanti. Cukup wudhu dan tidak pelu sholat," kata beliau. Cukup mikir akhirat, tidak perlu mikir dunia, dan sebaliknya. Mendekati akhir pidatonya, beliau mengingatkan pada santri-santri Ar Risalah Lirboyo agar jangan mau dijajah orang lain, terlebih dijajah diri sendiri. Cukuplah Allah yang menjajah diri. Hanya Allah yang berhak ditakuti karena Ialah Sang pemilik kehidupan. Konon di Ar Risalah semua ilmu ada: Bahasa Jepang, Cina, Inggris, Arab, dan ilmu-ilmu lainnya. bukan hanya ilmu tentang sholat.

"Hanya orang merdeka yang bisa kreatif dan berfikir jernih," kata beliau.


Begitulah ilmu yang saya dapatkan dari pidato Gus Mus di YouTube tersebut. Bila ada salah, itu dari saya sebagai manusia. Kebenaran hanyalah milik Allah.


_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

The Real Education Updated at: 14:12

0 comments:

Post a Comment