Sajak Sebatang Lisong (W.S. Rendra)

Posted by







_____________________________________________________________________________


Sudah berkali-kali sebenarnya menontonnya. Tapi menonton dulu dengan sekarang itu beda rasanya. Bagian yang sangat berkesan buat saya, sepotong sajak berikut:

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.




Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.


Saya tidak hendak mengapresiasi puisi ini, meskipun hanya sebagian sajaknya, karena saya bukan seorang yang ahli di bidang sastra.

Tetapi, "Semangat Kepedulian" yang menggelora ketika menonton video WS Rendra membacakan puisi ini di ITB,   pada tahun 1977. Tiga hal yang menggelitik pikiran saya: Kekuasaan yang macet, papan tulis para pendidik, dan kanak-kanak.

Tetapi, yang menjadi perhatian paling utama saya adalah kanak-kanak.

Kanak-kanak. Mereka adalah generasi, penerus kehidupan. Bermacam-macam yang tua memperlakukan mereka. Ada yang sangat peduli, cinta tak bersyarat; ada yang sangat peduli karena ingin menitipkan hidup setelah renta nanti; ada yang sangat peduli karena ingin mendapat imbalan Tuhan-nya di akhirat kelak; ada yang cuek sekali karena merasa dirinya sudah mau mati tidak akan ikut merasakan susahnya yang muda andai masa depan lebih jelek dari sekarang; dan semacamnya.

Mereka perlu diajari cara menjalani hidup, sama seperti yang tua ketika masih kecil dulu. Tetapi ilmu mengajar tidak dimiliki oleh semua yang tua, atau hanya sok gk punya, atau tidak mau, atau tidak berkesempatan, dan semacamnya. Sehingga, ia meminta bantuan yang ahli mendidik, yakni mereka yang disebut "guru".

Guru meluangkan waktunya menggantikan orang tua, orang tua memberikan uangnya kepada sang guru. Siswa dan masyarakat juga membayar dengan penghargaan dan penghormatan kepada guru, orang tua juga demikian.

Mengajari cara hidup.

Menonton performance Rendra, mennyusup semangat kepedulian, bahwa kita bukan hanya sekedar ada, tetapi mesti exist, exist.

FAKTA

Tidak bisa dipungkiri, hidup adalah tuntutan, bagi sebagian orang. Mereka dituntut untuk mempertahankan hidup, untuk meningkatkan taraf hidup. Guru juga demikian? Guru juga tertuntut untuk mempertahankan dan meningkatkan taraf kehiduannya sebagai ...? (guru/individu)

Ada guru yang juga sekaligus seorang pengusaha, ada guru yang murni menjadi pendidik. Tetapi tidak perlu banyak dibahas soal hidup mereka, yang perlu diperhatikan adalah para generasi. Mereka kanak-kanak yang baru tahu dunia.

Keberadaan mereka menjadikan orang tua exist.

Ah, kok bulet...!! Jadi kemana-mana.

Ya, pusing jadinya, tapi saya yakin lebih pusing para orang tua yang mau mencarikan lembaga pendidikan untuk anaknya. Sekolah yang bagus itu mahal. Kalau sekolah yang murah, khawatir gurunya sibuk mencari uang tambahan. Mungkin.

Solusinya: "Tidak ada pendidikan yang lebih baik dari pendidikan oleh ayah dan ibu di rumah." Tetapi, tidak semua orang tua menyadari tugasnya dan tidak semua orang tua mampu dan berkesempatan.

Jika anak-anak itu tidak terdidik dengan baik, siapa yang lebih baik menggantikan pendidik dan penguasa nanti?

"Kepadamu aku bertanya?"

Demikian WS Rendra mengakhiri sajaknya.










_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________

The Real Education Updated at: 15:00

1 comments: